Merendahkan Ulama, Orang Tua, dan Pemimpin Adil: Penanda Nyata Kerapuhan Moral Bangsa!

SENTINEL JUSTICIA, Wonosobo – Di tengah arus informasi dan kebebasan berpendapat di era digital, marwah serta kehormatan ilmu agama kerap kali berada dalam ujian. Memuliakan para ulama dan pemimpin yang adil bukanlah sekadar tradisi moral, melainkan bagian integral dari pengagungan seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Pentingnya menjaga penghormatan terhadap para pengemban ilmu dan pemimpin yang adil ini ditegaskan langsung dalam bimbingan syariat. Rasulullah s.a.w. bersabda:

إنَّ مِنْ إجْلَالِ اللهِ تَعَالَى إكْرَامَ ذِى الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِى فِيهِ وَلَا الْجَافِى عَنْهُ وَإكْرَامَ ذِى السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ. (ترغيب عن أبى داود)

“Sesungguhnya sebagian dari pengagungan terhadap Allah s.w.t. ialah: Memuliakan muslim yang sudah tua, memuliakan orang yang mengajarkan Al-Qur’an tanpa meminta upah dan memuliakan pemimpin yang adil.”

Hadits lain berbunyi: Rasulullah s.a.w. bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِى مَنْ لَمْ يُبَجِّلْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ عَالِمَنَا . ( ترغيب )

“Bukanlah termasuk umatku, orang yang tidak menghormati yang tua, tidak belas kasih kepada anak-anak dan memuliakan ulama.”

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ لَا يَسْتَخِفُّ بِهِمْ إِلَّا مُنَاقِقٌ : ذُو الشَّيْبَةِ فِي الْإِسْلَامِ وَذُو الْعِلْمِ وَإِمَامٌ مُقْسِطٌ. ( ترغيب )

“Dari Abu Umamah r.a. dari Rasulullah s.a.w. bersabda, “Ada tiga jenis manusia yang mereka tidak akan diejek kecuali oleh orang munafik, mereka adalah: Seorang muslim yang tua, Seorang ulama dan Pemimpin yang adil.”

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Aku tidak takut sesuatu terjadi atas umatku kecuali tiga perkara, Berlimpahnya keduniaan sehingga mereka saling mendengki, Orang-orang jahil berusaha menafsirkan Al-Qur’an dan mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah s.w.t. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyaabihaat’ semuanya dari sisi Rabb kami.” “Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal²; Ketiga: Ulama akan disia-siakan dan tidak dipedulikan oleh umatku.” (HR. Thabrani, Targhib)

Peringatan Rasulullah SAW tersebut terasa sangat relevan dengan fenomena sosial yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat hari ini. Dewasa ini, bermacam-macam perkataan buruk telah dilontarkan kepada para ulama. Dalam kitab Fatwa ‘Aalam Ghirii disebutkan, bahwa kebanyakan perkataan buruk yang biasa mereka lontarkan itu dapat mengakibatkan mereka terkena hukum kufur. Karena itu sangatlah penting bagi kita agar berhati-hati dalam berbicara mengenai para ulama. Jika di dunia ini tidak ada ulama yang benar dan jujur, dan yang ada hanyalah orang-orang jahil dan ulama suu’ (sebenarnya kita tidak boleh mengatakan bahwa ada ulama suu’ kecuali ulama lain yang
mengatakannya). Maka dalam keadaan seperti ini, setiap muslim di seluruh dunia wajib mewujudkan masyarakat Islam yang dapat melahirkan ulama hakiki, untuk mengajarkan ilmu agama kepada yang lain. Adanya ulama di tengah kita adalah fardhu kifayah dan jika kita lalai untuk berusaha menghadirkan ulama yang hakiki, maka kita semua akan berdosa.

Refleksi Redaksi: Nas-nas hadits ini menjadi cermin jernih bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Sikap merendahkan para ulama, orang tua, maupun pemimpin yang adil adalah penanda nyata dari kerapuhan moral dan keimanan. Menjaga lisan dari celaan terhadap orang berilmu bukan sekadar adab, melainkan perlindungan bagi diri sendiri agar tidak tergelincir dalam kebinasaan rohani. Kehadiran para ulama hakiki adalah pilar penerang zaman; mengabaikan dan menyia-nyiakan keberadaan mereka berarti membiarkan masyarakat tenggelam dalam kebodohan dan krisis keteladanan.

Penulis: Tim Redaksi Sentinel Justicia

Penanggung Jawab: Novri Raimon, S.TP., S.H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *