SENTINEL JUSTICIA, Wonosobo – Sejarah kemuliaan Islam tidak pernah lepas dari pengorbanan darah, keringat, dan penderitaan luar biasa dari para generasi generasi awal (Assabiqunal Awwalun). Di masa-masa terjal ketika jumlah pemeluk Islam masih dapat dihitung dengan jari, mempertahankan keimanan bukan sekadar pilihan hidup, melainkan perjuangan nyawa yang mempertaruhkan keteguhan jiwa. Memahami sejarah penderitaan para sahabat Rasulullah SAW memberikan ikhtibar mendalam mengenai arti keikhlasan, ketahanan moral, dan prinsip tauhid yang tak goyah oleh siksaan fisik maupun tekanan zaman.
Mengenai keteguhan serta penderitaan dahsyat yang dialami oleh Khabbab bin Al-Arat r.a. dalam mempertahankan keimanannya pada masa permulaan Islam, berikut riwayat perjalanan hidup beliau:
“Khabbab bin Al-Arat r.a. juga termasuk salah seorang sahabat yang dengan tubuh yang penuh berkah telah menerima berbagai macam ujian dan cobaan. Berbagai macam penderitaan di jalan Allah telah ia terima pada masa permulaan Islam ketika baru lima sampai enam orang yang mau menerima Islam. Dengan demikian betapa lamanya ia menanggung penderitaan.
Ia telah dipaksa untuk memakai baju dari besi, kemudian dibaringkan di atas padang pasir di bawah terik matahari yang sangat panas. Karena panasnya, keringat banyak bercucuran dari tubuhnya. Sangat lama ia menghabiskan waktunya langsung di bawah terik matahari yang panas sehingga lama kelamaan kulitnya telah mengelupas karena panasnya.
Sebelumnya, Khabbab bin Al-Arat r.a. adalah hamba sahaya milik seorang wanita. Ketika tuannya memperoleh berita bahwa Khabbab r.a. sering bertemu Rasulullah s.a.w., maka ia menghukumnya dengan memanaskan batang besi, kemudian ditusukkannya besi tersebut ke kepala Khabbab bin Al-Arat r.a..
Ketika Umar bin Khattab r.a. menjadi khalifah, beliau meminta Khabbab bin Al-Arat r.a. untuk menjelaskan kembali tentang penderitaan yang pernah diterimanya pada masa awal-awal keislamannya. Ia menjawab, ‘Lihatlah punggungku ini.’ Maka Umar bin Khattab r.a. melihat punggungnya. Begitu beliau melihat punggungnya, beliau berkata, ‘Aku belum pernah melihat punggung seperti itu.’
Khabbab r.a. melanjutkan kisahnya, ‘Aku telah diseret di atas timbunan bara api yang menyala sehingga lemak dan darah yang mengalir dari punggungku telah memadamkan api tersebut.’
Dalam keadaan seperti itulah Islam mengalami kemajuan dan pintu-pintu kemenangan telah terbuka. Ketika semua ini terjadi, Khabbab bin Al-Arat r.a. berkata, ‘Nampaknya Allah s.w.t. telah memberi ganjaran atas segala penderitaan yang kita alami. Aku khawatir di akhirat nanti tidak ada ganjaran yang akan kita terima.’
Khabbab r.a. pernah bercerita bahwa suatu ketika, Rasulullah s.a.w. mengerjakan shalat begitu panjang tidak seperti biasanya. Setelah selesai shalat, sahabat r.a. bertanya kepada beliau berkenaan dengan rakaat yang panjang tersebut. Rasulullah s.a.w. menjawab, ‘Ini adalah shalat yang penuh dengan takut dan harap. Aku telah meminta tiga permohonan kepada Allah s.w.t., Dua di antaranya telah dikabulkan oleh-Nya dan yang satu telah ditolak oleh-Nya. Aku telah berdoa agar umatku jangan binasa karena kelaparan, doa ini telah dikabulkan oleh-Nya. Dan yang kedua, aku meminta agar umatku jangan dihancurkan oleh musuh, doa ini pun telah dikabulkan oleh-Nya. Dan doa yang ketiga, aku meminta agar sesama umatku jangan dijadikan saling bertengkar. Tetapi doa ini tidak dikabulkan oleh-Nya.’
Khabbab bin Al-Arat r.a. meninggal dunia pada umur tiga puluh tujuh tahun. Ia adalah seorang sahabat yang pertama kali dikuburkan di kota Kufah. Setelah wafatnya, Ali karramallahu wajhahu pernah lewat di dekat kuburnya, ia berkata, ‘Ya Allah, rahmatilah Khabbab. Dengan semangatnya ia telah memeluk Islam. Dengan kerelaannya ia telah menghabiskan waktunya dengan berhijrah dan berjihad dan menghadapi segala penderitaan serta musibah. Penuh berkahlah orang yang selalu mengingat hari Kiamat dan selalu bersiap-siap untuk menerima kitab amalannya pada hari Hisab, dan ia menjalani hidup ini dengan penuh qana’ah dengan harta seadanya, dan ia begitu rela terhadap Tuhannya.'”
Refleksi Redaksi:
Kisah perjuangan Khabbab bin Al-Arat r.a. memberikan pelajaran berharga bagi kita hari ini dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Keteguhan dalam memegang prinsip, ketahanan mental menghadapi ujian, serta ketakutan beliau akan pudarnya ganjaran akhirat akibat kenikmatan duniawi adalah teguran keras bagi kita agar senantiasa menjaga keikhlasan dan keteguhan iman dalam setiap langkah perjuangan.
Penulis: Tim Redaksi Sentinel Justicia