SENTINEL JUSTICIA, Wonosobo – Menjelang momen pemilihan pemimpin di daerah maupun lingkungan sekitar, suhu politik di tengah masyarakat sering kali memanas. Perbedaan dukungan dan pilihan sosok pemimpin tidak jarang memicu gesekan antarwarga, tetangga, bahkan sesama anggota keluarga. Padahal, menjaga tali silaturahmi dan persaudaraan sesama Muslim merupakan salah satu pilar utama dalam ajaran Islam yang tidak boleh dikorbankan demi kepentingan politik sesaat.
Rasulullah SAW secara tegas melarang seorang Muslim mendiamkan atau memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama Muslim lebih dari tiga hari.
Larangan Memutus Silaturahmi Lebih dari Tiga Hari
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, dari Hasyim bin ‘Amir RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memutus hubungan dengan seorang Muslim lainnya lebih dari tiga hari. Sesungguhnya keduanya berpaling dari kebenaran selama pemutusan hubungan itu. Dan yang lebih dahulu mengajak untuk kembali menjalin hubungan baik, maka hal itu akan menjadi penebus dosa baginya. Jika orang pertama mengucapkan salam kepada orang kedua dan ia tidak menjawab salamnya, maka malaikatlah yang menjawab salamnya, sedang syaitan menjawab orang kedua. Dan jika keduanya mati dalam masa pemutusan hubungan tersebut, kedua orang itu tidak masuk surga dan tidak dapat berkumpul di surga.” (H.R. Ibnu Hibban)
Mengenai penegasan “kedua orang itu tidak masuk surga”, Imam Abu Hatim menjelaskan bahwa hal tersebut berlaku jika Allah SWT tidak berkenan memberikan ampunan atas dosa pemutusan hubungan tersebut kepada mereka berdua.
Perintah Berpegang Teguh pada Tali Agama Allah
Larangan memutus tali silaturahmi ini sejalan dengan perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an untuk selalu menjaga persatuan dan menghindari perpecahan di antara umat:
“Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Q.S. Ali ‘Imran: 103)
Realita Sosial dan Bahaya Penyakit Hati
Dalam kehidupan sehari-hari, khususnya saat momen kontestasi politik, putusnya tali silaturahmi sering kali dipicu oleh penyakit hati seperti iri hati, dengki, dan sifat hasad yang menggerogoti keharmonisan antar sesama. Tidak jarang, perbedaan pandangan politik membuat orang saling menjauh, tidak bertegur sapa, bahkan memendam kebencian hingga berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun.
Padahal, perbedaan pilihan pemimpin dan perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam demokrasi. Sangat ironis ketika kontestasi politik yang sifatnya sementara justru merusak persaudaraan yang telah dibangun puluhan tahun. Membiarkan sifat hasad, gengsi, dan fanatisme figur menguasai diri hanya akan memperkeruh suasana, merusak kedamaian lingkungan, dan mengundang murka Allah SWT.
Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk mengesampingkan ego, meredam iri dengki, serta tidak mengorbankan silaturahmi hanya gara-gara urusan politik atau perbedaan paham. Menjadi pihak yang lebih dahulu menyapa dan merangkul kembali saudara kita adalah bentuk kemuliaan akhlak yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW.
Semoga kita semua senantiasa diberi kelembutan hati untuk saling memaafkan dan menjaga persatuan sesama anak bangsa dan sesama Muslim.
Penulis: Tim Redaksi Sentinel Justicia