Menyemai Ketenangan Jiwa Melalui Tauhid dan Keyakinan Terhadap Ketetapan Takdir

SENTINEL JUSTICIA, Wonosobo – Kehidupan manusia di dunia ini tidak pernah luput dari dinamika, ujian, serta pasang surut keadaan. Sering kali manusia merasa cemas terhadap masa depan yang belum terjadi, atau larut dalam kesedihan yang mendalam atas kegagalan dan musibah yang telah berlalu. Dalam menghadapi segala ketidakpastian zaman dan ujian moral yang semakin kompleks hari ini, Islam memberikan pegangan hidup yang sangat kukuh melalui pemahaman tauhid dan keyakinan yang bulat terhadap ketetapan takdir Allah SWT. Hakikat keimanan seorang hamba tidak hanya diukur dari sejauh mana ia menjalankan ritual ibadah, tetapi juga sejauh mana hatinya mampu berserah diri, ridha, serta meyakini dengan sepenuh jiwa bahawa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini telah diatur oleh Allah SWT dengan penuh keadilan dan hikmah.

Mengenai pentingnya meresapi hakikat iman serta ketetapan takdir sejak awal penciptaan alam semesta, Rasulullah SAW menegaskan peringatan yang sangat mendalam sebagaimana diriwayatkan oleh Ubadah bin Ash-Shamit kepada puteranya:

“Abu Hafshah rahimahullah, ia berkata, ‘Ubadah bin Ash-Shamit berkata kepada anaknya, ‘Hai anakku, kamu tidak akan dapat meraih rasa hakikat iman sebelum kamu meyakini bahwa apa yang menimpamu tidak akan bisa luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak akan bisa menimpamu.

Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah ialah pena. Lalu Dia berfirman, ‘Tulislah.’ Pena bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apa yang harus aku tulis?’ Dia menjawab, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadi hari Kiamat.

Ubadah berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mati di atas (keyakinan) selain ini, ia tidak termasuk golonganku.

(H.r. Abu Dawud)”

Refleksi Redaksi:
Pesan fundamental ini menjadi cermin mendalam bagi kita semua dalam menapaki jalan perjuangan dan kehidupan sehari-hari. Keyakinan sejati terhadap takdir Allah SWT tidak pernah mengajarkan kepasrahan yang pasif atau sikap berdiam diri, melainkan melahirkan keberanian, ketenangan jiwa, serta keteguhan hati untuk terus melangkah menegakkan kebaikan dan keadilan tanpa pernah gentar terhadap apa pun yang telah ditetapkan-Nya.

Penulis: Tim Redaksi Sentinel Justicia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *