Pengingat dari Mimbar Ngebrak: Bung Raymond Ajak Masyarakat Kawal Amanah dan Integritas Pemimpin

SENTINEL JUSTICIA, Wonosobo – Khotbah Jumat di Masjid Al Amin, Kampung Ngebrak, Desa Manggis, Kecamatan Leksono, berlangsung khidmat. Menghadirkan Khotib Kyai Abdul Hadi, pesan-pesan spiritual yang disampaikan menyentuh inti dari realitas kehidupan masyarakat sehari-hari, khususnya mengenai cara menyikapi dua kondisi yang kerap melanda manusia: nikmat dan cobaan.

Dalam narasinya yang banyak mengutip nasehat berbahasa Jawa, Kyai Abdul Hadi menguraikan bahwa sejatinya manusia senantiasa diuji dengan dua hal utama, yakni kesenangan (kasenengan/kasusahatan) dan kesusahan (kasedhihan). Namun, secara kuantitatif, acapkali manusia justru lebih banyak gugur dan lalai ketika diuji dengan kenikmatan berupa kedudukan, pangkat, dan kelimpahan harta ketimbang saat ditimpa kesengsaraan.

Mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 35:

“Wa nabluwukum bisy-syarri wal-khairi fitnataw wa ilaina turja’un.”

(Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.)

Kyai Abdul Hadi menegaskan bahwa melimpahnya harta dunia serta tingginya derajat dan pangkat sering kali melenakan. Hanya sedikit manusia yang mampu tetap menjaga rasa syukurnya di tengah puncak kenyamanan. Sebaliknya, ketika roda kehidupan berputar ke bawah—diuji dengan kemiskinan, kesusahan, maupun keretakan—banyak yang hilang arah karena tidak memiliki fondasi ketabahan yang kuat.

“Tiyang muslim ingkang kandel imanipun nggadhahi rasa pangeran dumateng Allah SWT. Piambakipun bakal tetep teguh nalika ngadhepi ujian, sae ingkang wujudipun kesusahan utawi kasenengan, sarta tansah ngutamakake sabar lan syukur marang Allah SWT,” tutur Kyai Abdul Hadi menegaskan pentingnya keseimbangan antara sabar dan syukur.

Pesan moral tersebut ditanggapi langsung oleh Kepala Wilayah Badan Pusat Reklasseering Republik Indonesia (BPR-RI) Jawa Tengah, Raymond (Novri Raimon, S.TP., S.H.), yang turut hadir sebagai jemaah shalat Jumat.

Menurut Bung Raymond, pesan mengenai ujian jabatan dan kekayaan sangat relevan dengan dinamika penegakan hukum serta tata kelola publik saat ini.

“Apa yang disampaikan Kyai Abdul Hadi adalah sentilan mendasar bagi para pemangku kebijakan dan masyarakat luas. Jabatan, pangkat, dan kewenangan itu adalah amanah sekaligus ujian kenikmatan yang sangat berat. Banyak orang runtuh integritasnya justru bukan saat diuji penderitaan, melainkan saat diuji dengan kekuasaan dan materi. Jika nilai syukur dan rasa takut kepada Tuhan tidak tertanam, penyalahgunaan wewenang akan sangat mudah terjadi,” tegas Bung Raymond.

Bung Raymond menambahkan, Badan Pusat Reklasseering Republik Indonesia (BPR-RI) Jawa Tengah terus berkomitmen untuk mengawal keadilan sosiologis di masyarakat, di mana nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan pertanggungjawaban moral harus menjadi landasan utama dalam menjalankan amanah publik.

Pesan dari mimbar Jumat Kampung Ngebrak ini menjadi pengingat tajam: bahwa dalam situasi apa pun—baik saat memegang kekuasaan maupun saat berada di titik terendah—keimanan dan integritas seseorang diukur dari sejauh mana ia mampu memegang teguh rasa syukur dan kerelaan (rilo) atas segala ketentuan-Nya.

Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *