SENTINEL JUSTICIA, Wonosobo – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, manusia sering kali dibayangi rasa cemas akan nasibnya di alam barzakh maupun di padang Mahsyar kelak. Ketakutan akan kegelapan dan beratnya
pertanggungjawaban di akhirat menjadi perenungan mendalam bagi setiap insan. Namun, Islam memberikan penawar dahaga spiritual melalui agungnya kalimat tauhid: Laa Ilaha Illallah sebagai fondasi
keselamatan utama di alam abadi.
Dari Ibnu Umar r.a., katanya, “Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Tidak ada kegelapan bagi Ahli laa ilaha illallah di dalam kubur maupun di mahsyar. Aku melihat seakan-akan ahli laa ilaha illallah bangkit dari kuburnya sambil menghilangkan debu yang penuh (pada dirinya), dan bangkit dari kubur, dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah s.w.t., yang telah menjauhkan diriku dari kesusahan dan kerisauan.'” Di hadits lainnya disebutkan bahwa ahli laa ilaha illallah tidak akan mengalami kegelapan pada waktu mati maupun ketika di kubur.
Keagungan serta keutamaan kalimat tauhid ini juga dijelaskan lebih mendalam melalui penuturan para sahabat dan ikhtibar hikmah faedah berikut ini:
Ibnu Abbas r.a. berkata bahwa pada suatu saat, ketika Rasulullah s.a.w. dalam keadaan bersedih, beliau bercerita, “Pada suatu saat, Jibril a.s. datang kepadaku dan aku dalam keadaan risau. Jibril a.s. berkata, ‘Allah s.w.t. menyampaikan salam untukmu. Melihat keadaanmu seperti ini, Dia s.w.t. bertanya apakah yang telah terjadi
(sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Pertanyaan ini hanyalah sebagai penghormatan saja kepada Rasulullah s.a.w.).’ Rasulullah s.a.w. menjawab, “Ya Jibril, aku sangat merisaukan umatku, bagaimana keadaan mereka nanti pada hari kiamat.” Jibril a.s. bertanya, ‘Umatmu yang kafir atau yang Islam?’ Beliau s.a.w. menjawab, “Aku bersedih terhadap orang-orang Islam.”
Kemudian, Jibril a.s. membawa Rasulullah s.a.w. untuk mengunjungi sebuah pekuburan kaum muslimin dari Banu Salamah, kemudian Jibril a.s. memukul salah sebuah kubur tersebut dengan sayapnya sambil berkata, “Qum biidznillah, dengan izin Allah, berdirilah kamu dari kubur.” Lalu, bangkitlah seseorang yang wajahnya sangat tampan, lalu ia mengucapkan, “Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah Alhamdulillahiy rabbil ‘alamin.” Kemudian, Jibril a.s. menyuruhnya, “Kembalilah ke tempatmu.” Kemudian, pada kubur yang kedua, Jibril a.s. memukulkan sayapnya sambil berkata, “Dengan izin Allah, berdirilah.” Maka, berdirilah seseorang yang sangat buruk wajahnya; matanya melotot sambil berkata, “Aduh, sedih, malu, aduh … musibah.” Kemudian, Jibril a.s. menyuruhnya, “Kembalilah ke tempatmu.” Setelah itu, Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa seseorang akan dibangkitkan menurut keadaannya pada waktu mati. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ahli laa ilaha illallah adalah orang yang memiliki hubungan khusus dengan kalimat itu. Karena adanya hubungan khusus dengan sesuatu, seseorang disebut sebagai tukang susu, tukang sandal, tukang permata. Mereka disebut demikian karena adanya hubungan khusus dengan pekerjaan yang berhubungan dengan benda-benda tersebut. Untuk itulah, orang yang senantiasa mengucapkan laa ilaha illallah disebut ahli laa ilaha illallah.
Di Al-Qur’an surat Faa-thir, umat ini dibagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah golongan yang disebut sebagai As-sabiqunal khairat, yakni orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab. Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa barangsiapa setiap hari membaca kalimat laa ilaha illallah sebanyak seratus kali, pada hari kiamat nanti akan dibangkitkan dengan bercahaya sebagaimana bercahayanya bulan purnama.
Abu Darda’ r.a. berkata, “Barangsiapa senantiasa membasahi lidahnya dengan dzikrullah, pada hari kiamat akan masuk surga dengan tersenyum-senyum.
Refleksi Redaksi: Pesan mutiara ini menjadi cermin mendalam bagi kita semua dalam menapaki jalan kehidupan sehari-hari. Mengamalkan dan membasahi lisan dengan kalimat Laa Ilaha Illallah bukan sekadar rutinitas ucapan, melainkan benteng jiwa yang menerangi kegelapan dan melahirkan ketenangan sejati. Di tengah berbagai ujian hidup dan godaan zaman, keteguhan menjaga tauhid inilah yang akan menjadi penuntun keselamatan, menjauhkan kita dari kerisauan dunia, serta menghantarkan kita menuju kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.