Ilmu yang Paling penting adalah Ilmu Mengenal ALLAH

SENTINEL JUSTICIA, Temboro — Di tengah kesibukan dunia dan hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali melalaikan, manusia kerap lupa siapa jati diri mereka yang sebenarnya. Di mana pun berada, dalam keadaan dan suasana apa pun, hakikatnya manusia hanyalah seorang hamba Allah. Mutiara hikmah dari al-Mukarrom KH. Khuzairon Temboro mengetuk batin kita untuk merenungkan kembali asal-usul penciptaan, kefanaan hidup, dan posisi hamba di hadapan Sang Pencipta secara utuh apa adanya.

Hakikat Kehidupan Dunia dan Manusia: Catatan Tausiyah KH. Khuzairon Temboro

Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang telah mendatangkan kita ke dunia ini. Kita dulu tidak ada, kemudian Allah datangkan kita ke dunia ini. Dan insyaallah tidak akan lama lagi, Allah akan keluarkan kita dari dunia ini.

Sudah menjadi keputusan Allah, siapa yang didatangkan oleh Allah ke dunia ini harus meninggalkan dunia ini suatu saat. Mau atau tidak mau; orang kaya ataupun orang miskin; pejabat ataupun rakyat; orang buta huruf maupun orang cerdik pandai; orang sehat maupun orang sakit; orang yang mau mikir atau orang yang tidak mau mikir; orang yang cinta dunia maupun yang tidak cinta dunia, kalau sudah waktunya, pasti harus meninggalkan dunia.

Qul innal-mauta alladzī tafrūna minhu fa-innahu mulāqīkum. Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari dari kematian itu, kematian itu akan berjumpa dengan kamu juga. Tidak ada yang bisa mengelak.

Hadirin, jamaah rahimakumullah, Allah lah yang telah mendatangkan kita ke dunia ini, dan Allah sudah mengambil keputusan kita pasti akan meninggalkan dunia ini. Dan kalau kita meninggalkan dunia ini, tidak boleh membawa, walaupun kerikil satu enggak boleh dibawa.

Dunia Bukan untuk Dimiliki, Melainkan Tempat Menjalankan Amanah

Maka dunia ini bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki. Manusia itu di dunia ini cuma giliran-giliran saja, giliran-giliran di dunia ini. Enggak ada manusia yang bisa memiliki dunia ini. ‘Ini tanah hak milik saya’, itu bukan perasaan kamu, itu bukan hak milik kamu, tapi kamu dapat giliran ngurus, cuman itu saja. Dapat giliran ngurus, nanti kalau gilirannya sudah habis, kamu akan meninggalkan semuanya. Maka orang yang merasa bisa memiliki dunia ini adalah orang yang bodoh. Dunia ini tidak bisa dimiliki siapa saja, selain penciptanya sendiri, Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah pemilik yang hakiki, pemilik yang sebenarnya.

Kita dapat giliran beberapa saat di dunia ini karena Allah hendak menguji kita. Kalau kita dalam giliran di dunia ini menggunakan dunia ini sesuai dengan agama Allah, maka kita dapat rida Allah, kemudian kita akan masuk dalam surga Allah. Tetapi kalau ketika kita mendapatkan giliran di dunia ini, kita menggunakan kehidupan kita, kita menggunakan dunia ini bukan sesuai yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kita akan meninggalkan dunia dapat murka Allah.

Mengenal Allah Sebagai Kewajiban Pertama dan Utama

Hadirin rahimakumullah, Allah yang telah mendatangkan kita ke dunia ini, Allah yang telah mendatangkan kita ke dunia ini. Untuk apa kita didatangkan oleh Allah ke dunia ini? Tugas yang pertama yang paling utama, begitu kita datang ke dunia ini, harus mengenal Allah, mengenal yang menciptakan dunia ini.

Maka sebelum kita kenal dengan apa saja, begitu kita lahir di dunia ini, maka diperintahkan oleh Nabi, diperintahkan oleh utusan Allah, untuk kita ini dikenalkan kepada Allah. Maka bayi baru lahir, telinga kanan, telinga kiri, dikumandangkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Sebelum kenal dengan ayahnya, dikenalkan dulu dengan yang menciptakan ayahnya. Sebelum kenal dengan ibunya, dikenalkan dulu dengan yang menciptakan ibunya. Sebelum kenal dengan dunia, dikenalkan dulu dengan yang menciptakan dunia. Inilah kewajiban kita pertama. Ini kewajiban pertama yang terpenting: mengenal Allah.

Sehingga kita ini merasa hamba Allah, merasa tinggal di bumi Allah, di bawah kolong langit Allah, makan rezeki dari Allah, minum minuman dari Allah, menghirup udara dari Allah, sehingga kita punya sikap hidup menghambakan diri kepada Allah. Itulah makna La ilaha illallah.

Menyadari Posisi Diri Sebagai Hamba yang Tiada Memiliki Apa Pun

Kita ini miliknya Allah. Kita sudah biasa mengatakan ‘ini rumah saya, ini sawah saya, ini ladang saya’, sampai kita lupa: kamu ini milik siapa? Kamu ini milik siapa? Lupa kita ini, jarang bertanya itu. Yang kita pikirkan: rumah saya, sawah saya, harta saya, dunia saya. Kamu itu loh milik siapa? Kamu ini miliknya Allah. Mulai pucuk kuku kamu sampai pucuk rambut kamu, semua milik Allah, kamu tidak punya apa-apa.

Pernah menciptakan apa kamu di alam semesta ini? Kamu tidak pernah menciptakan walau sebutir pasir. Kamu tidak pernah menciptakan walaupun setetes air. Kamu tidak pernah menciptakan walau selembar rambut, sepotong kuku. Kok sekarang kamu merasa: ‘ini punya saya, ini punya saya’? Ini adalah satu kelalaian yang besar.

Kita ini miliknya Allah, kita ini hambanya Allah. Kalau kita di masjid, kita ini hambanya Allah. Kalau kita di pasar, kita ini juga hambanya Allah. Kalaupun kita ini jadi raja yang paling kaya pun, juga tetap hamba Allah. Kalau kita ini di bumi, juga hanya hamba Allah. Kalau kita umpamanya bisa naik ke langit pun, juga hanya hamba Allah. Kalau kita ini buta huruf, bodoh, juga hamba Allah. Kalau kita ini orang pandai, paling pandai seluruh dunia pun juga tetap hanya hamba Allah. Kamu itu enggak punya apa-apa.

Maka kalau orang itu cerdas, kalau orang itu mau berpikir, di rumah yang dipikir, bagaimana menghambakan diri, bagaimana taat kepada Allah? Di sawah yang dipikir, bagaimana menghambakan diri kepada Allah? Di mana saja, ‘saya ini hamba Allah’, di mana saja…

Refleksi: Pesan dari Romo Kiai ini menjadi cermin yang sangat tajam bagi kita semua. Bahwa tugas yang paling utama dan pertama dalam hidup ini adalah mengenal Allah SWT. Dengan kesadaran bahwa diri kita tiada memiliki apa pun dan sepenuhnya adalah milik Allah, maka orientasi hidup kita di mana pun—baik di rumah, di sawah, maupun dalam keadaan apa pun—harus senantiasa diarahkan untuk total menghambakan diri dan taat kepada-Nya.

Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *