SENTINEL JUSTICIA, Magelang.- Di tengah deru kesibukan dunia dan ambisi manusia yang berlomba mengejar bayang-bayang hari esok, tersimpan sebuah teguran batin yang menyejukkan sekaligus menggugah jiwa. Rekaman mutiara hikmah dari Almarhum Kiai Mukhlisun Payaman mengajak kita untuk merenungkan kembali arti sejati dari sebuah perjalanan hidup, kefanaan usia, dan pelabuhan akhir yang pasti.
Illusi Waktu dan Masa Depan yang Pasti
Masa muda seringkali dihabiskan dengan mengerahkan segenap tenaga, bekerja habis-habisan demi merajut impian di hari tua dan menggapai apa yang disebut sebagai “masa depan”. Namun, dengan gaya bahasa yang menyentuh dan menohok kesadaran, Almarhum mengingatkan kita pada sebuah hakikat yang kerap terlupa:
“Waktu muda ini seakan-akan, ‘Wah, saya tak kerja habis-habisan untuk umur tua, untuk masa depan.’ Kalau masa depan itu tua, belum tentu. Satu, pertama belum tentu tua. Kedua, setelah tua pun untuk apa?”
Waktu terus berjalan, tetapi kepastian umur manusia bukanlah hari tua. Masa depan yang paling mutlak dan tidak bisa dihindari oleh siapapun bukanlah angan-angan duniawi, melainkan sebuah peristirahatan terakhir. “Masa depan yang pasti itu kuburan, itu masa depan. Kuburan ini masa depan yang pasti.”
Tidur dan Kematian: Cermin Kecil Menuju Keabadian
Dalam petuah spiritualnya, Kiai Mukhlisun mengibaratkan kematian dengan sesuatu yang setiap hari kita alami: tidur. Tidur adalah kematian sementara, dan bangun darinya adalah bukti kekuasaan Allah yang membangkitkan hamba-Nya.
Waktu tidur dan waktu mati memiliki banyak persamaan; saat tertidur raga tak berdaya berbuat apa-apa, begitupula ketika ajal menjemput. Melalui doa yang senantiasa kita panjatkan—Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur—kita diingatkan bahwa setiap bangun tidur adalah sebuah kesempatan kedua yang diberikan Sang Pencipta.
Luasnya Kuburan: Taman Surga di Balik Kesempitan Raga
Secara fisik, liang kubur tampak begitu sempit—hanya berukuran satu kali dua meter. Namun, dimensi batin dan ruhani di dalamnya melampaui batas-batas ukuran dunia.
Di balik dinding tanah yang sempit itu, terdapat rahasia kebesaran Ilahi. Sebagaimana mimpi di malam hari yang bisa terasa begitu luas, nyata, kadang indah dan kadang menakutkan, demikian pula alam kubur:
Ada kuburan yang menjadi Riyadlun min Riyadhil Jannah—taman-taman surga yang penuh kedamaian.
Namun ada pula yang menjadi bagian dari jurang neraka (hufratun min hufarin niran).
Keindahan dan keluasan kubur bukanlah ditentukan oleh jengkal tanah dunia, melainkan oleh cahaya amal dan keimanan.
Refleksi: Pesan Almarhum Kiai Mukhlisun Payaman ini menjadi cermin bagi kita semua. Bahwa di balik segala lelahnya ikhtiar dunia, orientasi hidup sejati harus senantiasa diarahkan untuk mempersiapkan “masa depan yang pasti”—pulang menemui Sang Khaliq dengan ketenangan hati dan husnul khatimah.
Penulis: Tim Redaksi