Warisan Leluhur Jawa dan Pandangan Islam: Rumput Kate Mas, Penyelamat Saat Sulit Buang Air Besar

WONOSOBO, SENTINEL JUSTICIA — Jauh sebelum obat-obatan kimia membanjiri rak apotek, para leluhur di tanah Jawa punya cara tersendiri untuk mengatasi masalah kesehatan sehari-hari. Salah satu jurus pamungkas yang diwariskan secara turun-temurun adalah penggunaan rumput atau tanaman Kate Mas (yang juga sering disebut Patik Mas).

Bagi generasi sepuh, tanaman liar yang satu ini bukanlah sekadar gulma pengganggu pekarangan. Ketika ada anggota keluarga yang mengeluh tidak bisa Buang Air Besar (BAB) hingga 2 atau 3 hari, petuah Jawa lama biasanya langsung keluar: Cari Kate Mas!

Kisah Nyata: Petuah Kyai Mandzur dan Mie Rebus Kate Mas

Kisah khasiat Kate Mas ini bukan sekadar mitos lama. Pengalaman nyata dialami oleh Abdul Rahman. Suatu ketika, saat ia sedang bersilaturahmi ke kediaman Kyai Mandzur Ngadisono, Kaliwiro, Abdul Rahman tanpa sengaja menceritakan keluhannya yang sudah tiga hari mengalami sembelit dan tak bisa BAB.

Mendengar keluhan tersebut, Kyai Mandzur secara sederhana menyarankan untuk mengonsumsi rumput Kate Mas.

Sesampainya di rumah, Abdul Rahman langsung mempraktikkan petuah sang kyai. Sebelum tidur, ia meracik semangkuk mie rebus yang dicampur dengan petikan rumput Kate Mas. Keajaiban kecil pun terjadi—keesokan harinya saat bangun tidur, masalah sembelit yang menyiksanya selama tiga hari seketika tuntas dan lancar kembali.

Nilai Ikhtiar dalam Pandangan Islam

Kearifan lokal dan saran sederhana dari tokoh agama seperti Kyai Mandzur ini berbanding lurus dengan ajaran Islam. Menjaga kesehatan merupakan bagian dari amanah, dan seorang muslim diperintahkan untuk berikhtiar mencari pengobatan saat ditimpa penyakit.

Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah. Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya.”

(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadis tersebut menjadi landasan bahwa setiap penyakit memiliki penawarnya. Sebagian telah ditemukan lewat kearifan tradisional turun-temurun, sementara sebagian lainnya terus diteliti oleh para ilmuwan modern.

Tumbuh Liar, Unggul Kandungan Alami

Rumput Kate Mas (Euphorbia heterophylla) memang banyak ditemukan di sawah, kebun, pekarangan, hingga lahan kosong. Tanaman ini mudah dikenali dari daunnya yang hijau dengan pucuk berwarna merah atau kekuningan saat berbunga, serta memiliki getah putih saat batangnya dipatahkan.

Hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung berbagai senyawa fitokimia, antara lain flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan senyawa fenolik. Senyawa saponin dan flavonoid inilah yang secara alami berfungsi merangsang pergerakan usus dan melunakkan pencernaan.

Islam Mengajarkan Memanfaatkan Alam dengan Bijak

Allah SWT berfirman:

“Dialah yang menurunkan air dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.”

“Dengan air itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanaman-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”

(QS. An-Nahl: 10–11)

Ayat ini mengingatkan bahwa tumbuh-tumbuhan merupakan salah satu nikmat Allah yang diciptakan untuk kemaslahatan manusia. Menggali potensi tanaman obat dan memanfaatkannya secara benar merupakan bagian dari bentuk ikhtiar yang sejalan dengan ajaran agama.

Tetap Mengutamakan Kehati-hatian

Meskipun memiliki potensi sebagai pencahar alami, rumput Kate Mas memiliki getah putih yang bisa menimbulkan iritasi jika dosisnya berlebihan atau pada orang yang sensitif. Oleh sebab itu, penggunaannya tetap harus dilakukan secara bijak dan berhati-hati.

Bagi penderita penyakit kronis atau mereka yang sedang dalam perawatan dokter, penggunaan ramuan herbal tetap disarankan untuk dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.

Menjaga Amanah Kesehatan

Kisah kesembuhan Abdul Rahman lewat petuah Kyai Mandzur Kaliwiro menjadi bukti nyata betapa kaya dan bermanfaatnya alam ciptaan Allah SWT. Keseimbangan antara ikhtiar, kearifan lokal, dan tawakal adalah kunci dalam menjaga amanah kesehatan.

Sebagai muslim, kita diajarkan untuk memanfaatkan setiap nikmat di sekitar kita dengan penuh rasa syukur, tanpa melupakan bahwa kesembuhan yang hakiki tetap datang dari Allah SWT.

Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *