
WONOSOBO, SENTINEL JUSTICIA – Suasana di Dusun Manggis, Desa Manggis, Kecamatan Leksono pada Selasa malam (03/02/2026) benar-benar bikin mak dheg dan ngungun. Padahal langit sedang “bocor” alias hujan deras, tapi warga malah tumplek blek memenuhi masjid sampai meluber ke teras dan tenda-tenda luar.
Bukan sedang menunggu pembagian bansos atau kampanye politik, warga berkumpul untuk guyub mengirim doa bagi almarhum Bapak Tukio Supandi. Beliau sejatinya “hanya” petani biasa yang hari-harinya akrab dengan lumpur sawah. Namun nyatanya, “pangkat” beliau di mata tetangga benar-benar kelas berat.
Baca juga: Lima Huruf Keramat Menuju Ramadhan Versi Alhafiz KH Arif Romdon, S.H.I.
Zikir yang Mengepung Langit
Dipimpin langsung oleh Kyai Aris, gema tahlil dan zikir seolah mengepung langit Manggis. Meskipun udara Leksono dinginnya nusuk balung, jamaah tetap anteng dan khusyuk. Fenomena ini sukses bikin siapa saja “cemburu” melihat betapa banyaknya warga yang ikhlas kehujanan demi mendoakan seorang petani.
“Fenomena membludaknya jamaah di tengah cuaca buruk ini seolah menjadi pesan tersirat bagi warga yang hadir. Kehadiran ratusan pelayat tersebut menegaskan bahwa investasi sosial melalui amal baik dan kerukunan bertetangga jauh lebih berharga daripada aset finansial mana pun.”
VVIP di Hadapan Sang Pencipta
Kejadian ini seolah jadi tamparan keras bagi kita yang masih hidup. Ternyata, tidak butuh jabatan mentereng atau baju klimis untuk jadi “VVIP” di hadapan Gusti Allah. Almarhum sudah membuktikan kalau menjadi sosok yang nguwongke (memanusiakan) sesama itu hasilnya luar biasa saat sudah dipanggil “pulang”.
Malam itu, Dusun Manggis tidak sekadar mengirim doa. Mereka sedang memberikan “pelajaran gratis”: Jika ingin punya follower setia hingga liang lahat, maka mumpung masih bernapas, tirulah gaya hidup almarhum yang apa adanya namun dicintai orang banyak.
Selamat jalan, Pak Tani. Jenengan benar-benar sukses memamerkan follower asli di hadapan Sang Pencipta.
HIKMAH HARI INI
Malam itu, Dusun Manggis memberikan pelajaran berharga bagi siapa saja yang melihat. Bahwa penghormatan setinggi ini tidak lahir dari jabatan atau harta, melainkan dari konsistensi almarhum dalam menjaga silaturahmi dengan sesama. Sebuah pengingat bahwa amal baik terhadap tetangga adalah bekal paling nyata saat seseorang berpulang.
Redaksi/Penanggung Jawab: Novri Raimon, S.TP, S.H