
WONOLELO, SENTINEL JUSTICIA – Banyak orang menganggap awan mendung sebagai hal biasa di musim hujan. Namun, tahukah Anda bahwa gumpalan awan gelap di langit memicu rasa khawatir yang luar biasa bagi Rasulullah SAW?
Pesan mendalam ini menjadi inti khotbah Jumat di Masjid Kp. Godean, Wonolelo. Khatib Ustadz Baryono mengajak jamaah menengok kembali hubungan spiritualitas dengan tanggung jawab menjaga alam.
Rahmat atau Azab?
Dalam khotbahnya, Ustadz Baryono menceritakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah merasa benar-benar aman saat melihat perubahan cuaca drastis. Beliau menjelaskan adanya dua kemungkinan di balik mendung pekat: hujan sebagai rahmat, atau pertanda azab seperti yang memusnahkan kaum ‘Ad.
“Rasulullah mengajarkan kita menghadapi fenomena alam dengan rasa takut kepada Allah, bertaubat, dan memperbanyak doa,” ujar Ustadz Baryono. Beliau menekankan pentingnya memohon hujan yang bermanfaat (nafi’an). Beliau juga meminta perlindungan agar Allah mengalihkan hujan yang membawa mudarat ke tempat yang lebih maslahat.
Banjir: Antara Takdir dan Keteledoran Manusia
Khotib memberikan sudut pandang seimbang dalam menyikapi bencana banjir bandang saat ini. Di satu sisi, musibah merupakan ketetapan Allah yang menuntut kesabaran. Bahkan, mereka yang wafat di dalamnya mendapatkan kemuliaan syahid.
Namun, Ustadz Baryono juga memberikan catatan tegas. Ia mengingatkan bahwa keteledoran manusia sering kali menjadi penyebab utama bencana. Menurutnya, bencana alam menjadi peringatan keras bagi kaum yang mengabaikan prinsip amar ma’ruf nahi munkar dan merusak keseimbangan lingkungan.
Pohon sebagai Benteng Iman
Ustadz Baryono menutup khotbah dengan pengingat kuat bahwa menjaga alam adalah amanah keimanan. Umat Islam tidak boleh merusak hutan atau menebang pohon secara sembarangan.
“Pohon adalah benteng bumi yang menahan air dan mencegah longsor. Merusak alam adalah bentuk kezaliman, karena dampaknya pasti kembali kepada manusia sendiri,” tegasnya. Ia kemudian menutup khotbah dengan doa keselamatan umat, termasuk untuk saudara di Palestina dan Sudan.
Respon Jamaah
Ika Andi, salah satu jamaah, mengaku sangat tersentuh dengan materi khotbah kali ini. Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan dengan situasi lingkungan di Wonosobo.
“Materi ini mengingatkan saya bahwa menjaga pohon dan alam adalah amanah iman. Kita tidak boleh abai, karena dampaknya akan kembali ke kita sendiri,” ungkapnya kepada Sentinel Justicia.
Redaksi/Penanggung Jawab: Novri Raimon, S.TP, S.H