Sertifikat ‘Orang Sial’ dari Langit: Saat Kerja Lembur Lebih Semangat Ketimbang Cari Seribu Bulan

WONOSOBO – Di bawah langit malam yang sunyi, ketika semesta sedang menyiapkan karpet merah bagi tamu agung bernama Lailatul Qadar, kita seringkali masih terjebak dalam cahaya neon ruang kerja. Kita mengejar angka, mengejar tenggat, seolah dunia akan runtuh jika satu tugas tak tuntas. Namun, di balik keriuhan itu, ada sebuah peringatan yang membekas dari lisan sang Rasul.

Pentingnya momen ini ditegaskan dalam sebuah hadis:

Diriwayatkan dari Anas r.a., dia berkata, “Ketika Ramadhan telah masuk maka Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Sesungguhnya bulan ini telah datang kepadamu, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa terhalang tidak mendapatkannya, sesungguhnya ia terhalang dari mendapatkan kebaikan seluruhnya dan tidaklah terhalang untuk mendapatkan kebaikan melainkan orang yang sial.'”

Ironi Ketekunan: Budak Deadline vs Pemburu Ampunan

Betapa anehnya cermin kehidupan kita. Kita sanggup mencurahkan energi yang luar biasa untuk urusan pekerjaan, berjaga semalaman demi laporan, namun merasa kelopak mata seberat timah saat harus bersujud.

Jika seorang pegawai kantor sanggup mengabaikan kantuk demi bonus tahunan, mengapa kita begitu sulit berjaga sebulan penuh demi pahala setara 80 tahun kehidupan? Sejatinya, ini bukan tentang ketahanan fisik, melainkan tentang siapa yang memegang kendali atas keinginan di dalam hati. Apakah kita sedang dalam perjalanan mengoleksi “sertifikat orang sial” karena mengabaikan kebaikan yang abadi?

Meneladani Para Pejuang Malam

Cahaya ketulusan itu pernah benderang di wajah Rasulullah s.a.w. Meski kebahagiaan abadi telah dalam genggamannya, beliau tetap memanjangkan shalatnya hingga kaki-kaki mulianya bengkak. Beliau bukan sedang mencari surga—beliau sedang mensyukuri cinta.

Jejak ini diikuti dengan gairah yang sama oleh para sahabat:

  • Sahabat Umar r.a.: Melarutkan diri dalam shalat sepanjang malam hingga fajar Shubuh menyingsing.
  • Sahabat Utsman r.a.: Berpuasa di siang hari dan menjadi “pengembara” Al-Qur’an di malam hari hingga khatam dalam rakaatnya.
  • Sahabat Syaddad r.a.: Yang rasa takutnya pada api neraka membakar rasa kantuknya hingga tak sanggup terpejam.
  • Para Tabi’in: Mereka yang menjaga wudhu Isya hingga waktu Shubuh tiba, membuktikan bahwa rindu pada Allah jauh lebih kuat dari rayuan bantal.

Nenek moyang telah mencontohkan bahwa bagi jiwa yang benar-benar mendambakan “sungai susu” di surga, rintangan setinggi gunung sekalipun hanyalah ujian kecil bagi hati yang memiliki pemahaman lurus. Jangan sampai, ketika fajar Idul Fitri tiba, kita hanya membawa lelah, sementara keberkahan seribu bulan lewat begitu saja tanpa kita sapa.

Redaksi / Penanggung Jawab: Novri Raimon, S.TP, S.H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *