
WONOSOBO, SENTINEL JUSTICIA – Ada suasana yang mendadak sunyi ketika Ustadz H. Imron Awaludin, S.Ag. menaiki mimbar Masjid Abu Daldiri, Jalan Ahmad Yani, Wonosobo, pada Jumat siang ini.
Bukan karena jamaah tertidur, melainkan karena rentetan kalimat tajam beliau menembus nalar siapa pun yang hadir.”
Mengawali khutbahnya, beliau memberikan peringatan keras bahwa rasa kantuk atau keinginan mengobrol harus dibuang jauh-jauh jika ingin meraih rahmat Allah. Adab mendengarkan khutbah adalah harga mati, dan mereka yang abai hanya akan pulang dengan tangan hampa.
Baca juga: Tolak Rp75 Juta! Syekh Junaid Al-Baghdadi Sebut Si Pemberi Lebih Miskin
Pesan Kematian dan Persiapan Ramadhan 1447 H
Ketegasan itu kemudian mencair menjadi sebuah pengingat yang menyentuh nurani saat beliau membahas hitung mundur menuju Ramadhan 1447 H.
Saat ini, kalender telah menunjukkan 18 Sya’ban, yang artinya napas kita hanya berjarak sekitar 12 hari lagi dari bulan suci. Ustadz Imron mengibaratkan Sya’ban layaknya sebuah pendakian bukit yang terjal.
Di fase “tanjakan” menuju puncak Ramadhan ini, setiap muslim diingatkan untuk tidak lagi menunda taubat. Sebab, tidak ada satu pun manusia yang memiliki jaminan bahwa umurnya akan sampai pada fajar pertama bulan puasa nanti.
Baca juga: Stop Musuhan! Dendam Ternyata Jadi Penghambat Ampunan di Malam Nisfu Sya’ban
Pagi Berpakaian, Sore Dikafani
Kalimat yang paling membuat jamaah tertegun adalah ketika beliau menggambarkan betapa tipisnya tabir antara kehidupan dan kematian.
Beliau menyebutkan betapa banyak manusia yang pada pagi hari masih gagah mengenakan pakaian sendiri, namun sore harinya pakaian itu dilepaskan oleh orang lain hanya untuk diganti dengan selembar kain kafan.
Pesan ini menjadi alarm bagi siapa saja yang masih merasa sehat agar segera memanfaatkan fisiknya untuk beribadah sebelum datang hari di mana kaki tak lagi sanggup melangkah.
Baca juga: Wahai Pemimpin! Kalau Kamu Takut Sedekah, Berarti Kamu Tak Percaya Sang Pemberi Rezeki
Kesadaran Jemaah Masjid Abu Daldiri
Usai pelaksanaan salat, salah satu jamaah, Abdul Rahman, mengaku sangat tersentuh. Menurutnya, perumpamaan tentang kematian tersebut sangat relevan dengan realita sehari-hari.
“Benar-benar menampar kesadaran. Kita sering merasa masih punya banyak waktu, padahal maut bisa datang kapan saja,” ungkap Abdul Rahman dengan nada serius.
Menutup khutbahnya, Ustadz Imron menekankan bahwa Sya’ban adalah momen pelaporan raport amal tahunan kepada Allah. Beliau mengajak jemaah melazimkan istighfar dan segera kembali ke jalan ampunan sebelum pintu kesempatan tertutup rapat. Allah tidak memberikan predikat manusia terbaik kepada mereka yang suci dari dosa, melainkan kepada hamba yang menyadari kekhilafannya.
Redaksi/Penanggung Jawab: Novri Raimon, S.TP, S.H