
WONOSOBO, SENTINEL JUSTICIA – Menjelang kedatangan bulan suci Ramadhan, sebuah pesan mendalam bergaung dari mimbar Jum’at di Masjid Agung Jami’ Wonosobo. Alhafiz KH Arif Romdon, S.H.I., menyuguhkan materi khotbah yang tidak biasa dengan membedah “anatomi” kata Sya’ban.
Beliau mengajak jamaah untuk tidak sekadar melewati bulan ini sebagai kalender rutin, melainkan membongkar kode-kode spiritual yang tersembunyi di balik tiap huruf penyusunnya. Mengutip kitab klasik Nuzhatul Majalis, KH Arif Romdon mengupas bahwa Sya’ban adalah sebuah sandi besar bagi persiapan rohani.
Dimulai dari huruf Syin, beliau menegaskan adanya Asy-Syarof atau kemuliaan yang harus dijaga. Baginya, bulan ini adalah fase krusial karena merupakan waktu di mana seluruh laporan amal manusia “disetorkan” ke langit. Maka, menjaga kehormatan diri dan memperbaiki akhlak menjadi harga mati bagi setiap Muslim sebelum melangkah ke bulan puasa.
Baca juga: Penyembah Berhala Masuk Surga? Rahasia Hidayah di Pulau Terpencil yang Menggetarkan Jiwa
Kode berikutnya yang dipecahkan adalah huruf ‘Ain yang melambangkan Al-‘Uluw atau derajat yang tinggi. Dalam khotbahnya, sang Alhafiz menekankan bahwa Sya’ban adalah momentum bagi jamaah untuk melakukan “upgrading” iman melalui kedekatan dengan Al-Qur’an.
Hal ini diperkuat dengan huruf Ba yang merujuk pada Al-Birru (kebaikan). Di sini, beliau memberikan sentilan sosial agar umat Islam di Wonosobo tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga peka terhadap isu kemanusiaan dan bencana yang melanda berbagai belahan dunia.
Baca juga: Bukan Sekadar Mendung, Rasulullah SAW Ternyata Pernah Gemetar Lihat Awan Gelap, Ada Apa?
Menjelang akhir khotbah, KH Arif Romdon menutup bedah “huruf keramat” ini dengan huruf Alif sebagai simbol Al-Ulfah (kasih sayang) dan huruf Nun sebagai simbol An-Nur (cahaya). Beliau mengingatkan bahwa Ramadhan tidak akan bisa dimasuki dengan sempurna tanpa adanya hati yang bersih dari dendam dan dipenuhi cahaya hidayah.
Menghidupkan malam Nisfu Sya’ban bukan sekadar tradisi, melainkan cara membasuh jiwa agar siap menerima pancaran cahaya Tuhan secara paripurna saat fajar Ramadhan menyingsing.
Abdul Rahman, salah seorang jamaah Jum’at yang hadir, mengaku sangat terkesan dengan penjelasan tersebut. Baginya, pemaparan Kyai Arif memberikan sudut pandang baru yang lebih segar.
“Apa yang disampaikan Kyai Arif tadi benar-benar membukakan mata. Biasanya kita cuma tahu Sya’ban itu bulan persiapan, tapi dengan dibedah huruf per huruf seperti tadi, rasanya jadi punya peta jalan yang jelas. Kita diajak melakukan ‘kalibrasi batin’ supaya nggak masuk ke Ramadhan dengan hati yang kosong,” ujar Abdul Rahman seusai pelaksanaan salat Jumat.
Ia menambahkan bahwa penjelasan tersebut membuatnya lebih waspada dalam menjaga kualitas ibadah sebelum Ramadhan tiba. “Sya’ban ini ternyata bukan sekadar kalender, tapi waktu buat kita benar-benar menata niat,” pungkasnya.
Redaksi/Penanggung Jawab: Novri Raimon, S.TP, S.H