
Kisah Hikmah: Rabi’ bin Sulaiman rah.a. menceritakan sisi kedermawanan sang guru yang sulit dinalar akal sehat saat ini. Suatu ketika, saat Imam Syafi’i hendak menaiki kudanya, seseorang datang membantu memegangi pedal kaki beliau. Tanpa pikir panjang, Imam berkata, “Berikan orang ini empat keping uang emas (4 Dinar) dan sampaikan permintaan maafku karena hanya bisa memberi jumlah sekecil ini.”
Padahal, 4 Dinar itu setara dengan Rp25,5 Juta! Sebuah angka yang bagi kita mungkin gaji berbulan-bulan, tapi bagi beliau hanya dianggap “jumlah yang tidak berharga” untuk menghargai bantuan orang lain.
Tak hanya itu, Abdullah bin Zubair Humaidi rah.a. mengisahkan saat sang Imam pergi haji membawa 10.000 Dinar (setara Rp63,7 Miliar). Beliau membentangkan alas makan di dalam tendanya, menumpuk uang sebanyak itu, dan membagikannya segenggam demi segenggam kepada setiap tamu yang datang berkunjung. Hasilnya? Uang 63 Miliar itu ludes sebelum masuk waktu Dzuhur.
Hikmah & Catatan Redaksi: Imam Syafi’i menunjukkan bahwa dunia benar-benar hanya ada di genggaman tangan, bukan di hati. Beliau minta maaf saat memberi 25 juta karena merasa “adab” memuliakan manusia jauh lebih mahal daripada angka tersebut.
Zaman sekarang, banyak yang merasa sultan hanya karena pamer barang mewah, tapi pelit luar biasa saat harus membayar jasa orang kecil. Imam Syafi’i mengajarkan: The Real Sultan adalah dia yang tangannya lebih cepat memberi daripada otaknya menghitung rugi. Kalau 63 Miliar saja bisa habis sebelum Dzuhur demi orang lain, lalu apa alasan kita masih menahan sedekah yang jumlahnya tak seberapa?
Konteks Nilai Ekonomi:
- 4 Dinar: Rp25.500.000
- 10.000 Dinar: Rp63.750.000.000 (63,7 Miliar Rupiah) (Asumsi 1 Dinar = 4,25 gram emas murni x Rp1.500.000)
Redaksi/Penanggung Jawab: Novri Raimon, S.TP, S.H